Harga Tempe Naik Berapa? Alasan Meroketnya Harga Impor Kedelai Bikin Masyarakat Menjerit
--
MITRA AUTO - Berikut adalah artikel tentang informasi harga tempe naik berapa di pasaran dan alasannya yang perlu kamu tahu. Yuk simak terus informasi di bawah ini biar nggak ketinggalan!
Publik diresahkan dengan naiknya harga bahan pokok di pasaran. Salah satunya adalah tempe. Naiknya bahan pangan utama rakyat Indonesia ini, langsung menjadi sorotan masyarakat dan membuat mereka menjerit. Pasalnya kenaikan harga tempe mengalami kenaikan harga yang signifikan dibanding dengan harga sebelumnya.
Pengrajin tempe di Sanan Kota Malang mengeluhkan naiknya harga kedelai impor. Ia mengungkapkan bahwa harga bahan baku tempe yakni kedelai yang diimpor dari Amerika mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Kedelai yang sebelumnya Rp 9.800 per kilogram terus naik menjadi Rp 10.600.
Harga Tempe Naik Berapa?
Masyarakat dibuat menjerit dengan naiknya harga bahan baku tempe. Pasalnya, bahan pangan yang menjadi lauk sehari-hari itu mengalami kenaikan yang tidak masuk akal bagi masyarakat.
Kini, mereka diresahkan akan kemungkinan naiknya beberapa bahan pangan lainnya yang pastinya hal ini akan menganggu produktivitas baik konsumen maupun penjual.
Baru ini harga tempe per awal April 2026 mengalami kenaikan signifikan. Harga pasaran tempe di beberapa wilayah naik menjadi sekitar Rp 12.000 per-kilogram dari sebelumnya Rp9.700. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga bahan baku kedelai imporn dari Amerika. Pengrajin tempe mengungkapkan bahwa harga kedelai kini mencapai Rp10.600 - Rp11.000 per kg, serta meningkatnya harga plastik kemasan.
Baca juga: VIRAL! Video Resepsi Lora Mamak dan Inayah Wahid Trending, Pasangan yang Menggegerkan Media Sosial
Karena naiknya harga bahan baku tempe, penerajin harus memikirkan cara untuk menutup biaya produksi dan bertahan di pasar. Menurutnya, tidak mungkin untuk menaikan harga jual tempe terlalu tinggi, maka dari itu mereka terpaksa memperkecil ukuran tempe yang ada.
"Produksinya tetap, cuma ukurannya dikurangin 1 centimeter lebih kecil dari biasanya." Kata Afriantoro.
Cara ini terpaksa diambil agar bisa menutup biaya produksi seperti biaya gas LPG dan upah karyawan. Saat berjualan di pasar, mereka juga memberikan pemahaman kepada konsumen tentang kenaikan harga kedelai impor.