Heboh! Hanania Group Travel Gagal Berangkatkan Ratusan Jamaah, Akan Jadwalkan Ulang Keberangkatan Usai Temui Kemenhaj
--
MITRA AUTO - Kabar heboh dari para jamaah Umroh! Hanania Group Travel Umroh yang sedang ramai diperbincangkan netizen. Simak sampai habis agar kamu tidak ketinggalan!
Kali ini jagat raya media sosial dihebohkan dengan penipuan ratusan jamaah umroh yang gagal berangkat. Dunia media sosial, khususnya platform Threads dan TikTok, tengah diramaikan oleh perbincangan mengenai penyedia travel umroh Hanania Group Travel,.
Di tengah polemik yang terus berkembang, sorotan publik kini tertuju pada sosok di balik Hanania Group. Perusahaan travel umrah ini diketahui dimiliki dan dikelola oleh pasangan suami istri, yakni Fitriatun Nisa Bahri yang menjabat sebagai Komisaris Utama, dan Ahmad Farhan sebagai Direktur Utama (CEO).
Ingin tahu info lebih lanjutnya? Baca artikel ini sampai habis!
Awal Mula Kontroversi Nisa Bahri Owner Hanania Group Travel Umroh
Kegaduhan ini bermula ketika gelombang protes dari sejumlah calon jemaah mulai bersliweran di media sosial. Masalah utama yang memicu kemarahan publik adalah adanya pembatalan keberangkatan secara mendadak, di mana beberapa laporan menyebutkan informasi pembatalan baru diterima jemaah hanya sepuluh hari (H-10) sebelum jadwal keberangkatan, padahal pembayaran sudah dilunasi.
Komplain juga sempat dilayangkan kepada pihak Hanania terkait konflik memanas di timur tengah pada 1 Maret 2026. Nyatanya, program masih berjalan sesuai jadwal.
“29 Januari 2026 mendaftar lewat travel umroh Hanania dengan program Umroh Syawal Dubai dan Al Ula, terus 1 Maret 2026 konflik timur tengah memanas, jamaah menanyakan kabar melalui grup, pihak travel menjawab program umroh masih on schedule.” utas pemiliki akun Threads.
Situasi semakin memanas karena setelah pembatalan tersebut, para jemaah mengeluhkan minimnya kejelasan mengenai jadwal reschedule dan sulitnya proses pengembalian dana. Hal inilah yang akhirnya mendorong netizen untuk terus menuntut transparansi dari pihak Hanania Group.
Tidak adanya rincian yang jelas membuat sebagian jemaah merasa dirugikan. Bahkan, meeting yang sempat diadakan dengan pihak manajemen tidak menemukan titik temu.