Mbah Pramugi Prawiro Widjojo Meninggal Karena Apa? Sesepuh Sedulur Sikep Kampung Samin Sambongrejo Blora
--
MITRA AUTO - Kabar duka datang dari komunitas tradisional di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menyusul meninggalnya salah satu tokoh paling dihormati dalam Sedulur Sikep Kampung Samin Sambongrejo, yaitu Mbah Pramugi Prawiro Widjojo. Beliau wafat pada tanggal 22 Februari 2026, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, pengikut setia, dan masyarakat luas yang menghargai ajaran lokal dan nilai-nilai luhur yang diperjuangkannya. Mbah Pramugi dikenal bukan sekadar sosok pemimpin spiritual, tetapi juga simbol penghormatan terhadap budaya nenek moyang yang berakar kuat di wilayah Blora.
Sebagai sesepuh komunitas Sedulur Sikep, Mbah Pramugi memainkan peran sentral dalam mempertahankan identitas budaya dan spiritual kelompok yang sudah eksis berabad-abad di bagian utara Jawa. Sedulur Sikep adalah bagian dari warisan gerakan Saminisme, sebuah aliran kepercayaan lokal yang menekankan kesederhanaan, kejujuran, dan hubungan harmonis dengan alam serta sesama manusia. Meski tidak tercatat sebagai agama resmi dalam catatan administrasi negara, nilai-nilai tersebut tetap hidup melalui tradisi yang dijaga oleh figur tokoh seperti Prawiro Widjojo.
Baca juga: Penyebab Rosada Andelina Meninggal Dunia, Umur, Perjalanan Hidup dan Akun Media Sosial
Profil Mbah Pramugi di Komunitas Sedulur Sikep
Lahir dan besar di Kampung Samin Sambongrejo, Blora, Prawiro Widjojo mendapatkan gelar Mbah Pramugi dari komunitasnya karena peranannya sebagai pembimbing rohani dan penjaga tradisi. Sejak muda, beliau dikenal tekun menjalankan ajaran leluhur yang diwariskan secara turun-temurun dan selalu menempatkan nilai moral serta sosial sebagai fondasi hidup bermasyarakat, terutama dalam komunitas Sedulur Sikep.
Sedulur Sikep sendiri adalah sebutan untuk kelompok masyarakat yang berakar pada filosofi Saminisme — sebuah gerakan yang lahir pada akhir abad ke-19 sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme Belanda melalui prinsip non-kekerasan dan penolakan terhadap struktur sosial yang menindas. Para pengikut percaya pada kehidupan sederhana, kerja keras, tolong-menolong, serta menolak praktik memaksa yang tidak adil. Nilai-nilai ini terus dipertahankan sampai sekarang, meski tidak semua aspek kehidupan modern diterjemahkan secara harfiah oleh komunitas ini.
Dalam kesehariannya, Mbah Pramugi dikenal sebagai sosok yang rendah hati, bijaksana, dan sangat dihormati anggota kampung maupun luar komunitas. Beliau sering dimintai nasihat oleh berbagai kalangan, baik tentang persoalan spiritual, sosial, maupun persoalan keluarga. Kehadirannya menjadi semacam jembatan antara generasi tua dan muda untuk memahami serta mempertahankan tradisi tanpa terjebak pada dogma eksklusif yang mengasingkan diri dari masyarakat luas.
Baca juga: Konflik Ananda Zhafira Pacar Okin Tak Peduli Disindir Calon Mertua Numpang Hidup!