Tragedi Berdarah di Bungalow Legian: WN Australia Diduga Habisi Dua Anaknya Sebelum Bunuh Diri
--
MITRA AUTO - Kawasan wisata internasional Legian, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, digemparkan oleh peristiwa pembunuhan dan bunuh diri yang menimpa satu keluarga warga negara asing. Tiga orang ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di dalam kamar penginapan Arca Bungalow, Jalan Three Brothers, Legian Tengah. Kasus maut yang melibatkan seorang ayah berkebangsaan Australia dan dua anak kandungnya yang masih balita ini langsung memicu penyelidikan mendalam dari aparat kepolisian setempat. Kapolresta Denpasar, Kombes Pol Leonardo David Simatupang, dalam rilis perkembangan perkara menjelaskan bahwa pelaku utama diidentifikasi sebagai pria asal Australia berinisial DJS atau SDJ yang berusia 57 tahun. Sementara dua korban meninggal lainnya merupakan anak kandungnya, yakni ADS yang berusia 7 tahun dan LKS yang berusia 4 tahun. Jasad ketiga korban pertama kali ditemukan oleh pemilik bungalow bersama kepala lingkungan setempat setelah mendobrak pintu penginapan secara paksa akibat kecurigaan tidak adanya aktivitas harian di lokasi. Berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) serta pemeriksaan luar oleh Unit Identifikasi Forensik, kedua anak malang tersebut ditemukan meninggal dunia di atas lantai kamar dengan posisi saling bertindih. Indikasi medis awal menunjukkan kedua korban balita tewas akibat mengalami kekerasan fisik berupa pembekapan dan pencekikan pada saluran pernapasan. Setelah memastikan kedua buah hatinya tidak lagi bernyawa, pelaku DJS kemudian mengambil tali nilon berwarna biru dari area gudang bungalow untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara gantung diri. Aparat penyidik Polresta Denpasar dibantu Polda Bali berhasil mengamankan sejumlah rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar penginapan yang menggambarkan situasi mencekam sebelum pembunuhan terjadi. Dari rekaman audio visual, sempat terdengar suara teriakan histeris anak laki-laki dari dalam kamar, disusul penampakan anak perempuan korban yang berusaha berlari keluar menyelamatkan diri. Namun, pelaku DJS terlihat mengejar, menangkap, dan membawa paksa sang anak kembali masuk ke dalam kamar sebelum pintu dikunci rapat dari dalam. Mengenai motif di balik tindakan keji tersebut, polisi menduga kuat pelaku mengalami depresi berat dan tekanan mental yang dipicu oleh masalah finansial setelah tertipu investasi hingga ratusan juta rupiah. Kondisi psikologis pelaku dikonfirmasi oleh sang istri yang berada di Jakarta, yang menyatakan bahwa suaminya memiliki tingkat kecemasan ekstrem dan mudah tersulut emosi. Pihak istri telah membuat surat pernyataan resmi untuk menolak proses autopsi lanjutan di RSUP Prof. Ngoerah karena menganggap konstruksi peristiwa sudah sangat jelas terbukti lewat rekaman CCTV dan alat bukti yang dikumpulkan petugas.