Monday 16th of February 2026

Kenapa Imlek Sering Diguyur Hujan? Penjelasan Ilmiah BMKG, Pengaruh Monsun, dan Makna Budaya di Indonesia

Kenapa Imlek Sering Diguyur Hujan? Penjelasan Ilmiah BMKG, Pengaruh Monsun, dan Makna Budaya di Indonesia

--

MITRA AUTO - Perayaan Tahun Baru Imlek selalu meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat Indonesia, terutama karena sering kali disertai turunnya hujan deras. Fenomena ini sudah menjadi “tradisi tak tertulis” yang kerap dibahas setiap tahun. Banyak yang bertanya-tanya: apakah ini kebetulan semata, atau ada penjelasan ilmiah di baliknya? Ternyata, hujan saat Imlek bukanlah hal mistis atau kebetulan belaka, melainkan hasil kombinasi faktor meteorologi, pola iklim regional, dan penanggalan lunar yang unik. Bahkan, dalam budaya Tionghoa, hujan justru dimaknai sebagai simbol keberkahan dan rezeki yang melimpah.

Tahun Baru Imlek 2026 jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026, menandai dimulainya Tahun Kuda Api (丙午 – Bǐng Wǔ) dalam zodiak Tionghoa. Tanggal ini mengikuti kalender lunar, sehingga selalu berpindah antara akhir Januari hingga pertengahan Februari. Di Indonesia, rentang waktu tersebut secara konsisten bertepatan dengan puncak musim hujan, menurut data dan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berikut empat alasan utama mengapa Imlek sering hujan, lengkap dengan penjelasan ilmiah dan makna budayanya.

Baca juga: Sinopsis Return of the Devourer, Manhua Reinkarnasi Devourer Si Chen Ubah Masa Depan Dunia

Baca juga: Game Anti Ribet! Redling 2 & Echo: Masterpiece Inovatif Komunitas Scratch Februari 2026

1. Bertepatan dengan Puncak Musim Hujan di Indonesia

Tahun Baru Imlek menggunakan kalender lunar (penanggalan berdasarkan peredaran bulan), bukan kalender Masehi berbasis matahari. Akibatnya, tanggal perayaannya selalu berada di rentang 21 Januari hingga 20 Februari. Periode ini merupakan masa puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatera serta Kalimantan.

Menurut BMKG, bulan Januari dan Februari memiliki curah hujan tertinggi akibat pengaruh dinamika atmosfer tropis. Data historis menunjukkan bahwa rata-rata curah hujan di Jakarta, Surabaya, dan Bandung pada periode tersebut sering melebihi 200–300 mm per bulan, jauh lebih tinggi dibandingkan musim kemarau. Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menegaskan bahwa “hujan saat Imlek lebih disebabkan oleh faktor waktu, bukan karena perayaannya itu sendiri.” Ketika Imlek jatuh di Februari, seperti tahun 2026, peluang hujan sedang hingga lebat meningkat signifikan di hampir seluruh Jawa, Bali, NTB, NTT, dan sebagian Sulawesi.

2. Pengaruh Angin Monsun Barat yang Membawa Kelembapan Tinggi

Salah satu penyebab utama hujan deras adalah angin monsun Asia (atau monsun barat) yang aktif pada awal tahun. Angin ini berhembus dari Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan, membawa massa udara lembap kaya uap air ke wilayah Indonesia dan Asia Tenggara.

Ketika angin monsun bertemu dengan kondisi atmosfer yang mendukung—seperti konvergensi angin (daerah pertemuan angin) dan aktivitas gelombang tropis seperti Madden-Julian Oscillation (MJO)—terbentuklah awan hujan dalam skala luas. Proses ini menyebabkan kondensasi uap air menjadi tetesan hujan yang jatuh sebagai curah hujan tinggi. Di Indonesia, monsun barat ini mencapai puncaknya antara Desember hingga Maret, sehingga Februari menjadi bulan dengan intensitas hujan maksimal. Fenomena ini juga terjadi di negara-negara Asia Timur seperti China selatan, meski dengan pola yang sedikit berbeda (dikenal sebagai “plum rain” atau meiyu di musim semi).

Source:

Update Terbaru

RELATED POST