Kekuatan Batik dan Sarung Sebagai Identitas Pengenal Kuat Sesama WNI di Luar Negeri di Tengah Keragaman Global
--
MITRA AUTO - Di tengah hiruk-pikuk kota-kota internasional yang penuh dengan keragaman etnis, bahasa, dan gaya berpakaian, Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di luar negeri sering kali menemukan rasa keakraban dan solidaritas yang tak terduga. Salah satu elemen paling sederhana namun sangat kuat yang menjadi “kode pengenal” antar sesama WNI adalah batik dan sarung. Pakaian tradisional ini tidak hanya berfungsi sebagai busana, melainkan simbol identitas nasional yang langsung terbaca secara visual, bahkan tanpa sepatah kata pun.
Batik, yang telah diakui UNESCO pada 2 Oktober 2009 sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan, bukan sekadar kain bermotif indah. Setiap corak batik—mulai dari parang, kawung, hingga mega mendung—membawa makna filosofis, filosofi hidup, dan nilai budaya yang dalam. Sementara sarung, yang identik dengan tradisi santri dan ibadah, menjadi penutup aurat pria yang sederhana namun penuh makna spiritual. Kedua busana ini sering kali menjadi “isyarat visual” yang membuat sesama WNI langsung merasa “ada saudara di sini”.
Pengalaman nyata ini dibagikan oleh jurnalis Tribunnews.com, Danang Triatmojo, yang baru saja kembali dari kunjungan kerja ke Timur Tengah pada awal Februari 2026. Saat berada di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Madinah, dan Makkah di Arab Saudi, ia menyaksikan langsung bagaimana batik dan sarung berperan sebagai penanda identitas.
Baca juga: Pemerintah Terapkan Pembatasan Operasional Truk 13-29 Maret 2026 demi Kelancaran Mudik Lebaran
“Saat sarapan pagi di sebuah hotel di Abu Dhabi, saya mengenakan kemeja batik. Tanpa ada percakapan sebelumnya, seorang pramusaji tiba-tiba menyapa dalam bahasa Indonesia, ‘Selamat pagi Pak,’ sambil membukakan pintu restoran menuju area semi-outdoor,” cerita Danang. Sapaan spontan itu muncul hanya karena melihat motif batik yang dikenakan—tanpa perlu menanyakan asal negara atau berbincang panjang.
Pengalaman serupa berulang di Tanah Suci. Di pusat perbelanjaan sekitar Masjid Nabawi di Madinah maupun kawasan Masjidil Haram di Makkah, ketika Danang mengenakan sarung, beberapa WNI mendekat dengan permintaan sederhana: “Mas, boleh minta tolong fotoin?” Interaksi itu terjadi secara alami, seolah ada ikatan tak terucap yang langsung terbentuk hanya dari penampilan busana tradisional.
Fenomena ini bukan kebetulan semata. Di berbagai belahan dunia—dari Malaysia, Belanda, Arab Saudi, hingga negara-negara Eropa dan Amerika—batik dan sarung sering menjadi “bendera kecil” yang menyatakan “saya orang Indonesia”. Bahkan tokoh nasional seperti Megawati Soekarnoputri konsisten mengenakan batik dalam setiap agenda internasional di UEA dan Arab Saudi, menegaskan bahwa batik bukan hanya fashion, melainkan pernyataan identitas dan kebanggaan nasional di kancah global.
Update Terbaru
Kekuatan Batik dan Sarung Sebagai Identitas Pengenal Kuat Sesama WNI di Luar Negeri di Tengah Keragaman Global
Minggu / 15-02-2026,22:26 WIB
RELATED POST
Pelayanan MBG Tetap Berjalan Saat Ramadan dan Lebaran 2026, BGN Pastikan Gizi Seimbang Tetap Terpenuhi
Minggu / 15-02-2026,22:47 WIB
Siapa Naufal Samudra Aktor Muda yang Dirumorkan Dekat Jule, Netizen Ungkap Banyak Bukti di Threads
Minggu / 15-02-2026,22:41 WIB
Kenapa Imlek Sering Diguyur Hujan? Penjelasan Ilmiah BMKG, Pengaruh Monsun, dan Makna Budaya di Indonesia
Minggu / 15-02-2026,22:37 WIB
Sinopsis Return of the Devourer, Manhua Reinkarnasi Devourer Si Chen Ubah Masa Depan Dunia
Minggu / 15-02-2026,22:31 WIB
Kekuatan Batik dan Sarung Sebagai Identitas Pengenal Kuat Sesama WNI di Luar Negeri di Tengah Keragaman Global
Minggu / 15-02-2026,22:26 WIB
Sisi Gelap Jepang Kuasai Material Chip Dunia: Dominasi ABF Ajinomoto dan Bahan Semikonduktor Krusial Lainnya
Minggu / 15-02-2026,22:22 WIB
Mengenal Scratch dan ScratchJr: Platform Coding Gratis MIT yang Ubah Kecanduan Gadget Anak Jadi Karya Kreatif di 2026
Minggu / 15-02-2026,22:17 WIB