Monday 16th of February 2026

Kenapa Imlek Sering Diguyur Hujan? Penjelasan Ilmiah BMKG, Pengaruh Monsun, dan Makna Budaya di Indonesia

Kenapa Imlek Sering Diguyur Hujan? Penjelasan Ilmiah BMKG, Pengaruh Monsun, dan Makna Budaya di Indonesia

--

Baca juga: Heboh! Lele Raksasa 3 Meter Adu Duel Selama 50 Menit, Bikin Kontroversi Hingga Takjub

3. Faktor Iklim Regional dan Geografi Indonesia

Indonesia sebagai negara kepulauan tropis memiliki iklim yang sangat dipengaruhi oleh posisi lintang rendah dan keberadaan lautan luas di sekitarnya. Lautan hangat di sekitar Indonesia (seperti Laut Jawa, Laut Flores, dan Samudra Hindia) terus-menerus menguapkan air, meningkatkan kelembapan udara. Ketika udara lembap ini naik dan mendingin di ketinggian, terjadilah proses kondensasi yang membentuk awan cumulonimbus—awan hujan tebal yang sering menghasilkan hujan lebat disertai petir.

Selain itu, topografi pulau-pulau besar seperti Jawa dan Sumatera memiliki pegunungan yang memaksa angin lembap naik (orographic lift), sehingga curah hujan semakin intens di sisi barat dan selatan pulau. Kombinasi faktor iklim tropis, pengaruh lautan, dan geografi inilah yang membuat periode Januari–Februari menjadi musim hujan paling dominan, dan secara kebetulan berimpit dengan waktu Imlek.

4. Makna Budaya dan Simbolisme Hujan dalam Tradisi Tionghoa

Di luar penjelasan ilmiah, hujan saat Imlek memiliki makna positif dalam budaya Tionghoa. Air melambangkan rezeki, kelimpahan, dan kehidupan baru. Hujan deras di awal tahun baru dianggap sebagai pertanda keberuntungan, membersihkan hal-hal buruk dari tahun sebelumnya, dan membawa berkah serta kemakmuran. Ahli feng shui sering menyebut hujan sebagai “air surga” yang membawa energi positif (qi) untuk tahun mendatang.

Baca juga: Tragedi Maut di Kisaran Sumut, Toyota Fortuner Tertabrak KA Putri Deli, Dua Anak Tewas, Kakek Kritis

Di Indonesia, masyarakat keturunan Tionghoa pun memaknai hujan sebagai berkah, meski kadang mengganggu acara barbekyu, arak-arakan barongsai, atau kunjungan ke klenteng. Tradisi ini semakin menguatkan persepsi bahwa hujan bukan musibah, melainkan bagian dari siklus alam dan simbol harapan baru.

Bukan Kebetulan, tapi Siklus Alam yang Konsisten Fenomena hujan saat Tahun Baru Imlek adalah hasil perpaduan kalender lunar yang fleksibel dengan pola musim hujan tropis yang stabil. BMKG selalu mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir, longsor, dan genangan saat periode ini, terutama di wilayah rawan seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Meski demikian, bagi banyak orang, hujan justru menambah suasana khusyuk dan penuh harapan dalam merayakan Imlek.

Tahun 2026 ini, sambut Imlek dengan payung dan hati gembira—karena di balik tetes hujan, ada janji rezeki dan keberkahan yang melimpah. Selamat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, Gong Xi Fa Cai! Semoga tahun Kuda Api membawa energi positif dan kemajuan bagi semua. 

Source:

Update Terbaru

RELATED POST